PACITAN — Perjalanan Desa Ngumbul, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, menuju desa digital tidak dimulai ketika istilah transformasi digital menjadi jargon yang ramai digunakan pemerintah. Jejaknya justru dapat ditarik lebih dari satu dekade lalu, ketika teknologi informasi mulai digunakan untuk mengubah cara pemerintah desa berkomunikasi dengan warganya.
Pada 2017, nama Desa Ngumbul mencuat dalam pengelolaan informasi desa. Desa ini meraih Juara I Sistem Informasi Desa (SID) Award Kabupaten Pacitan. Beberapa bulan kemudian, Ngumbul kembali memperoleh penghargaan, kali ini pada tingkat Jawa Timur, sebagai Juara II kategori website desa terbaik dalam PPID Award 2017.
Dua capaian itu bukan sekadar penghargaan administratif.
Di baliknya terdapat cerita mengenai sebuah desa yang berusaha menjadikan informasi sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan. Website, data desa, kelompok informasi masyarakat dan berbagai kanal komunikasi digunakan untuk mendekatkan pemerintah dengan warga.
Namun, hampir satu dekade setelah dua penghargaan tersebut diraih, pertanyaan yang lebih penting justru muncul: apakah transformasi itu mampu bertahan?
Pertanyaan tersebut penting karena banyak inovasi pemerintahan desa berakhir setelah program berganti, pengelola berpindah, atau teknologi yang digunakan tidak lagi diperbarui.
Jejak Desa Ngumbul memberikan cerita yang berbeda. Ada capaian, ada proses belajar, tetapi juga ada tantangan mengenai bagaimana sebuah inovasi desa dipertahankan agar tidak berhenti sebagai catatan sejarah.
Penghargaan yang Mengubah Cara Pandang
Pada 8 September 2017, Desa Ngumbul mendapatkan Juara I dalam SID Award yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan terhadap kemampuan desa dalam mengembangkan Sistem Informasi Desa.
Pada masa itu, digitalisasi desa belum menjadi kebutuhan yang sekuat sekarang. Internet memang sudah berkembang, tetapi penggunaan teknologi untuk tata kelola pemerintahan desa belum merata.
Bagi banyak desa, informasi pemerintahan masih identik dengan papan pengumuman, surat edaran atau penyampaian melalui perangkat desa.
Ngumbul mencoba keluar dari pola tersebut.
Informasi desa mulai ditempatkan dalam ruang digital. Data kependudukan, informasi pembangunan, kegiatan pemerintahan dan berbagai informasi publik disajikan melalui sistem informasi yang dapat diakses masyarakat.
Penelitian mengenai penerapan SID di Desa Ngumbul menunjukkan bahwa penggunaan sistem tersebut memiliki dampak terhadap tata kelola desa, antara lain pada keterbukaan informasi, pengelolaan data kependudukan, pelayanan masyarakat, transparansi anggaran dan partisipasi masyarakat.
Dengan demikian, teknologi tidak ditempatkan semata-mata sebagai perangkat publikasi. Ia menjadi bagian dari mekanisme pemerintahan. Penghargaan SID Award menjadi semacam penanda bahwa model tersebut mendapatkan pengakuan. Tetapi Ngumbul belum berhenti.
Dari Kabupaten ke Tingkat Jawa Timur
Pada 18 Desember 2017, hanya beberapa bulan setelah menerima penghargaan SID Award, Desa Ngumbul kembali mendapatkan penghargaan di tingkat provinsi.
Dalam PPID Award 2017 yang diselenggarakan Komisi Informasi Provinsi Jawa Timur, Ngumbul memperoleh Juara II kategori website desa terbaik.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan informasi Desa Ngumbul tidak hanya mendapat perhatian di lingkungan Kabupaten Pacitan.
Website desa yang dibangun dan dikelola ketika itu dinilai memiliki kualitas dalam konteks keterbukaan informasi publik.
Dua penghargaan tersebut memiliki karakter berbeda.
SID Award berkaitan dengan penerapan sistem informasi desa, sedangkan PPID Award menempatkan aspek keterbukaan informasi publik sebagai bagian penting dalam penilaian.
Jika dibaca secara bersamaan, keduanya menunjukkan satu hal: Desa Ngumbul sedang membangun ekosistem informasi.
Bukan hanya teknologi.
Tetapi juga cara pemerintah desa menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Dalam konteks pemerintahan desa, hal ini memiliki arti penting. Keterbukaan informasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun kepercayaan masyarakat.
Warga tidak hanya ingin mengetahui siapa yang menjadi kepala desa atau kapan pelayanan kantor dibuka. Mereka juga membutuhkan informasi tentang pembangunan, program pemerintah, anggaran, bantuan, kegiatan sosial serta berbagai kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Ketika informasi tersedia dan mudah diakses, jarak antara pemerintah dan masyarakat dapat dipersempit.
Dari Penghargaan Menjadi Tempat Belajar
Ukuran keberhasilan sebuah inovasi sebenarnya tidak selalu terlihat dari piala. Ukuran lain yang tidak kalah penting adalah ketika orang lain datang untuk mempelajarinya.
Jejak itulah yang kemudian muncul dalam perjalanan Desa Ngumbul. Sejumlah daerah menjadikan Ngumbul sebagai lokasi studi tiru dan pembelajaran penerapan Sistem Informasi Desa.
Penelitian tentang Desa Ngumbul mencatat adanya kunjungan dan studi tiru dari sejumlah daerah. Pengalaman Ngumbul kemudian menjadi bahan pembelajaran mengenai bagaimana sistem informasi dapat diterapkan dalam konteks pemerintahan desa.
Pada 2019, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Trenggalek bersama Diskominfo, tim pendamping serta operator desa dari sejumlah desa datang ke Ngumbul untuk melakukan studi referensi mengenai Sistem Informasi Desa.
Pilihan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Ngumbul memiliki pengalaman yang relatif panjang dalam mengelola informasi berbasis digital.
Pada masa itu muncul ungkapan yang menggambarkan perjalanan desa tersebut: “Dari Desa Tertinggal Menjadi Desa Digital.”
Kalimat tersebut bukan sekadar slogan. Ia menggambarkan perubahan paradigma.
Desa tidak lagi hanya dipandang sebagai objek pembangunan. Desa dapat menjadi ruang lahirnya inovasi dan bahkan menjadi tempat bagi pemerintah daerah lain untuk belajar.
Teknologi Saja Tidak Pernah Cukup
Ada satu pelajaran penting dari perjalanan Ngumbul. Digitalisasi desa tidak pernah hanya mengenai website. Website hanyalah wajah yang terlihat.
Di belakangnya terdapat manusia yang harus mengelola data, memperbarui informasi, memeriksa kebenaran berita, menjawab pertanyaan masyarakat dan memastikan sistem tetap berjalan.
Karena itu, keberhasilan digitalisasi lebih tepat dibaca sebagai persoalan tata kelola.
Teknologi bisa dibeli. Server bisa disediakan. Website bisa dibuat.
Tetapi budaya keterbukaan membutuhkan waktu untuk dibangun.
Hal yang sama berlaku pada sumber daya manusia.
Ketika pengelola sistem informasi memahami kebutuhan masyarakat, teknologi akan memiliki fungsi. Sebaliknya, ketika sistem hanya dijalankan untuk memenuhi kewajiban administratif, digitalisasi mudah berubah menjadi formalitas.
Pengalaman Ngumbul menunjukkan bahwa aspek manusia menjadi salah satu elemen penting.
Sebab ekosistem informasi desa tidak hanya dibangun oleh perangkat desa.
Ada masyarakat yang menjadi pengguna.
Ada kelompok informasi masyarakat yang menjadi penghubung.
Ada pengelola yang memproduksi informasi.
Ada pemerintah daerah yang memberikan dukungan.
Hubungan antarelemen inilah yang menentukan apakah sistem dapat bertahan.
KIM Pena dan Ekosistem Informasi Masyarakat
Salah satu bagian menarik dalam sejarah digitalisasi Ngumbul adalah keberadaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pena Ngumbul.
KIM bukan sekadar kelompok yang membantu menyebarkan pengumuman pemerintah.
Dalam sejumlah kajian, KIM Pena Ngumbul tercatat mengembangkan berbagai produk komunikasi masyarakat. Di antaranya radio komunitas dan majalah desa “DESAKU”.
Keberadaan media komunitas tersebut memperlihatkan bahwa informasi tidak sepenuhnya berjalan satu arah dari pemerintah kepada masyarakat.
Masyarakat juga memiliki ruang untuk memproduksi dan menyebarkan informasi.
Model seperti ini memiliki nilai strategis.
Sebab komunikasi pembangunan yang sehat membutuhkan partisipasi.
Pemerintah menyediakan informasi. Masyarakat memberikan respons. Keduanya kemudian berinteraksi dalam ruang komunikasi yang lebih terbuka.
Di era media sosial, pola tersebut menjadi semakin relevan.
Masyarakat kini tidak hanya membaca informasi dari website desa. Mereka mengonsumsi informasi melalui Facebook, Instagram, WhatsApp, TikTok dan berbagai platform lain.
Perubahan tersebut membuat tantangan komunikasi pemerintah desa menjadi lebih kompleks.
Informasi harus cepat, tetapi tetap akurat.
Harus menarik, tetapi tidak boleh menyesatkan.
Harus terbuka, tetapi tetap memperhatikan aturan mengenai data pribadi.
Dengan kata lain, desa digital membutuhkan kemampuan literasi digital yang semakin tinggi.
Tantangan Setelah Penghargaan
Hampir satu dekade setelah pencapaian 2017, ukuran keberhasilan Desa Ngumbul tidak lagi cukup dinilai dari penghargaan.
Justru tantangan terbesar muncul setelah penghargaan diperoleh.
Bagaimana memastikan sistem tetap berjalan?
Bagaimana melakukan regenerasi pengelola?
Bagaimana memperbarui teknologi?
Bagaimana memastikan informasi yang disajikan tetap relevan?
Dan yang paling penting, apakah masyarakat masih menggunakan kanal digital tersebut?
Pertanyaan itu relevan untuk semua desa yang sedang menjalankan transformasi digital.
Sebab ada banyak contoh ketika sebuah inovasi terlihat menonjol pada awal peluncuran, tetapi kemudian mengalami penurunan aktivitas.
Penyebabnya bermacam-macam.
Pengelola berganti. Anggaran berubah. Prioritas pemerintah desa bergeser. Infrastruktur mengalami kendala. Atau masyarakat menemukan kanal komunikasi baru yang dianggap lebih praktis.
Karena itu, keberlanjutan merupakan ujian sesungguhnya.
Ketika KIM Desa Mengalami Kevakuman
Kondisi Kelompok Informasi Masyarakat di Pacitan pada 2026 memberikan konteks menarik terhadap perjalanan Ngumbul.
Dalam pemberitaan mengenai aktivitas KIM di Kabupaten Pacitan, Diskominfo menyebut aktivitas KIM di sejumlah desa mengalami kevakuman. Di tengah kondisi tersebut, KIM Desa Ngumbul disebut masih aktif.
Informasi itu penting karena memberikan gambaran bahwa ekosistem informasi yang dibangun sejak masa awal digitalisasi desa belum sepenuhnya hilang.
Namun, tetap diperlukan kehati-hatian dalam membaca capaian tersebut.
Aktifnya sebuah KIM tidak otomatis berarti seluruh sistem digital desa berjalan optimal. Aktivitas kelompok masyarakat, kualitas website, pemutakhiran data, penggunaan media sosial dan efektivitas pelayanan digital merupakan indikator yang berbeda.
Karena itu, perjalanan Ngumbul masih menyisakan pekerjaan rumah.
Penghargaan masa lalu harus diterjemahkan menjadi kemampuan menjawab kebutuhan masyarakat hari ini.
Dari Website ke Pelayanan Publik
Tantangan digitalisasi desa saat ini juga sudah berubah.
Pada 2017, memiliki website desa yang aktif saja merupakan sebuah pencapaian.
Kini standar masyarakat jauh lebih tinggi.
Warga menginginkan pelayanan yang cepat dan sederhana. Mereka ingin mengetahui informasi bantuan sosial, administrasi kependudukan, program pembangunan, layanan kesehatan, pendidikan dan berbagai informasi lainnya tanpa harus datang berkali-kali ke kantor desa.
Artinya, desa digital masa kini tidak cukup hanya informatif.
Ia juga harus fungsional.
Website dan media sosial seharusnya tidak berhenti sebagai ruang publikasi foto kegiatan kepala desa atau perangkat desa.
Kanal digital harus mampu menjawab kebutuhan warga.
Di sinilah perjalanan Ngumbul menjadi relevan untuk dibicarakan kembali.
Pengalaman hampir satu dekade lalu dapat menjadi modal untuk membangun tahap berikutnya.
Jika dahulu tantangannya adalah membuat pemerintah desa hadir di ruang digital, kini tantangannya adalah membuat kehadiran tersebut benar-benar memberikan manfaat.
Mengukur Digitalisasi dari Dampaknya
Ada kecenderungan melihat keberhasilan digitalisasi dari jumlah aplikasi atau banyaknya konten yang dipublikasikan.
Padahal indikator tersebut belum tentu menggambarkan keberhasilan.
Sebuah desa dapat memiliki banyak aplikasi tetapi masyarakat tetap harus datang ke kantor desa untuk mendapatkan pelayanan.
Sebaliknya, sebuah desa mungkin hanya memiliki beberapa kanal digital, tetapi kanal tersebut benar-benar digunakan dan mampu menyelesaikan persoalan masyarakat.
Karena itu, ukuran keberhasilan harus bergeser dari “berapa banyak teknologi yang dimiliki” menjadi “seberapa besar teknologi memberikan dampak.”
Dalam konteks Ngumbul, pertanyaan tersebut dapat menjadi agenda berikutnya.
Apakah masyarakat merasa lebih mudah memperoleh informasi?
Apakah pelayanan menjadi lebih cepat?
Apakah data desa menjadi lebih akurat?
Apakah masyarakat lebih mengetahui proses pembangunan?
Apakah transparansi anggaran meningkat?
Dan apakah ruang partisipasi masyarakat menjadi lebih luas?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan apakah predikat desa digital benar-benar memiliki makna.
Pelajaran dari Ngumbul untuk Desa Lain
Perjalanan Desa Ngumbul menyimpan satu pelajaran penting bagi desa-desa lain di Indonesia.
Transformasi digital tidak harus selalu dimulai dengan teknologi yang mahal.
Ia dapat dimulai dari persoalan sederhana: bagaimana membuat informasi tersedia, bagaimana mengelola data, bagaimana membuka ruang komunikasi dan bagaimana membangun kebiasaan pemerintah untuk memberikan informasi kepada masyarakat.
Setelah itu, teknologi menjadi alat untuk memperkuat proses tersebut.
Dalam konteks itu, penghargaan SID Award dan PPID Award pada 2017 bukanlah tujuan akhir.
Keduanya merupakan penanda sebuah fase perubahan.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi sesudahnya.
Jika inovasi dapat bertahan, berkembang dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat, maka penghargaan tersebut memiliki nilai historis.
Tetapi jika inovasi berhenti setelah seremoni penghargaan, maka piala hanya menjadi artefak.
Ngumbul dan Masa Depan Desa Digital
Hari ini Desa Ngumbul memiliki modal sejarah yang tidak semua desa miliki.
Desa ini pernah menjadi juara dalam pengelolaan Sistem Informasi Desa di tingkat Kabupaten Pacitan. Ia juga pernah mendapat pengakuan sebagai salah satu website desa terbaik di Jawa Timur.
Lebih dari itu, pengalaman tersebut membuat Ngumbul didatangi pihak lain yang ingin belajar.
Jejak KIM Pena Ngumbul menambah dimensi lain: transformasi informasi tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat.
Namun sejarah juga membawa tanggung jawab.
Predikat yang pernah diraih tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berinovasi.
Justru karena pernah menjadi rujukan, standar yang harus dijaga menjadi lebih tinggi.
Desa digital pada akhirnya bukan tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan.
Bukan pula tentang seberapa banyak penghargaan yang pernah diterima.
Desa digital adalah tentang perubahan hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Tentang informasi yang lebih terbuka.
Tentang pelayanan yang lebih sederhana.
Tentang data yang lebih tertata.
Tentang masyarakat yang memiliki ruang untuk bertanya, memberikan masukan dan ikut mengawasi pembangunan.
Hampir satu dekade lalu, Ngumbul telah menunjukkan bahwa desa di wilayah perdesaan pun dapat menjadi pelopor dalam pemanfaatan teknologi informasi.
Kini tantangannya berbeda.
Bukan lagi membuktikan bahwa desa mampu menggunakan teknologi.
Melainkan membuktikan bahwa teknologi tersebut benar-benar mampu membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih mudah.
Di situlah masa depan transformasi digital Desa Ngumbul akan diuji.
Bukan di atas panggung penghargaan.
Melainkan di ruang pelayanan, di layar telepon warga, dalam data yang digunakan pemerintah desa, dan pada seberapa mudah seorang warga memperoleh informasi yang menjadi haknya.
Sebab pada akhirnya, ukuran paling jujur dari sebuah desa digital bukanlah jumlah penghargaan yang tersimpan di lemari kantor desa.
Ukuran sebenarnya adalah seberapa jauh teknologi membuat pemerintah lebih dekat dengan rakyatnya. (**)

